Home Blog

Level Komunikasi

Level Komunikasi

Sebagai sebuah proses, aktivitas, dan skill, komunikasi itu ada level atau tingkatannya. Berikut ini level komunikasi atau tingkatan dalam komunikasi.

Menurut Anurag Bhai Patidar (2012), level komunikasi ditentukan oleh dasar jumlah orang yang terlibat dalam sebuah proses komunikasi, juga oleh tujuan komunikasi.

Levels of communication are determined on the basis of the number of people involved in the process of communication as well as on the purpose of communication.

Konsep atau teori tentang level komunikasi ini dikemukakan Dennis McQuail dalam Mass Communication Theory. Buku ini diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia, Teori Komunikasi Massa (Jakarta: Erlangga, 1987).

Level komunikasi menurut McQuail ini banyak dikutip dalam buku-buku komunikasi sebagaimana dalam daftar pustaka di akhir postingan ini.

Level Komunikasi versi McQuail

Menurut McQuail, secara umum kegiatan komunikasi dalam masyarakat dapat berlangsung dalam enam tingkatan atau level.

1. Komunikasi Intrapersonal

Disebut juga komunikasi intrapribadi, komunikasi intrapersonal adalah proses komunikasi yang terjadi dalam diri seseorang.

Penggunaan bahasa atau pikiran yang terjadi dalam diri komunikator atau dalam diri sendiri.

Komunikasi intrapersonal merupakan keterlibatan internal secara aktif dari individu dalam pemprosesan simbolis dari pesan-pesan yang diproduksi melalui proses pemikiran internal individu.

Dalam komunikasi intrapersonal, seorang individu menjadi pengirim sekaligus penerima pesan, juga memberikan umpan balik bagi dirinya sendiri, dalam proses internal yang berkelanjutan.

Dalam konteks komunikasi intrapersonal akan dijumpai cara seseorang menerima informasi, mengelolahnya, menyimpannya, dan menghasilkannya kembali sebagai sebuah proses yang berlangsung terus-menerus.

Proses pengolahan informasi itu disebut sebagai komunikasi intrapersonal, meliputi sensasi, persepsi, memori, dan berpikir.

  • Sensasi adalah adalah pengalaman elementer yang segera, tidak memerlukan penguraian verbal, simbolis, atau konseptual, dan terutama sekali berhubungan dengan kegiatan alat indera.
  • Persepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan.Persepsi ialah memberikan makna pada stimuli inderawi (sensory stimuli).
  • Memori adalah sistem yang sangat berstruktur, yang menyebabkan organisme sanggup merekam fakta tentang dunia dan menggunakan pengetahuannya untuk membimbing perilakunya.
  • Berpikir adalah proses memahami realitas dalam rangka mengambil keputusan (decision making), memecahkan persoalan (problem solving), dan menghasilkan yang baru (creativity).

Dalam komunikasi intrapersonal juga terdapat faktor eksternal sebagai penarik perhatian untuk proses berpikir, yaitu:

  1. Gerakan Visual tertarik pada objek yang dapat terlihat dan bergerak
  2. Intensitas Rangsanga ( Stimuli)
  3. Novelty , hal-hal yang baru dan luarbiasa , beda dan akan menarik perhatian
  4. Perulangan, hal yang disajikan berkali-kali dan ditambah seikit variasi, hal ini akan menarik perhatian.

2. Komunikasi Interpersonal

Disebut juga komunikasi antarpribadi, komunikasi interpersonal adalah proses penyampaian pesan dari seseorang kepada orang lain (pihak lain).

Menurut pengertian tersebut, komunikasi dikaitkan dengan pertukaran informasi yang bermakna dan harus membawa hasil di antara orang-orang yang berkomunikasi.

Komunikasi interpersonal menghendaki informasi atau pesan dapat tersampaikan dan hubungan orang yang berkomunikasi dapat terjalin.

Oleh karena itu, setiap orang dituntut memiliki keterampilan komunikasi interpersonal agar dapat berbagi informasi, bergaul, dan menjalin kerjasama untuk bertahan hidup.

Keterampilan seseorang ini melekat pada setiap pribadi dalam persentuhannya dengan masyarakat (baik individu maupun kelompok), yang dalam perwujudannya akan menampilkan sikap, tingkah laku, dan perbuatan yang mencerminkan keakuratan dalam menunjang pelaksanaan tugas.

Keterampilan dasar komunikasi perseorangan ini meliputi:

  1. Keterampilan mengamati (observing skill)
  2. Keterampilan menggambarkan (describing skill)
  3. Keterampilan mendengarkan (listening skill)
  4. Keterampilan bertanya (questioning skill)
  5. Keterampilan meringkas (summarizing skill)
  6. Keterampilan member dan menerima umpan balik (feedback skill)

Tujuan komunikasi interpersoanal, sebagaimana dikemukakan DeVito (1992:13-14), yaitu sebagai berikut:

  1. Mempelajari secara lebih baik dunia luar, seperti berbagai objek, peristiwa, dan orang lain. Meskipun informasi tentang dunia luar itu dikenal melalui media massa, hal itu sering didiskusikan, dipelajari, diinternalisasi, melalui komunikasi interpersonal. Selanjutnya, melalui komunikasi interpersonal, dapat mengevaluasi keadaan untuk dibandingkan dengan kondisi sosial orang lain.
  2. Memlihara hubungan dan mengembangkan kedekatan atau keakraban. Melalui komunikasi interpersonal, adanya keinginan menjalin rasa cinta dan kasih sayang.
  3. Memengaruhi sikap-sikap dan perilaku orang lain. Upaya memengaruhi pihak lain menjadi demikian penting bagi pengawas/penilik kependidikan yang tugasnya melakukan pembinaan.
  4. Menghibur diri atau bermain.

3. Komunikasi Kelompok

Disebut juga komunikasi grup (group communication), komunikasi kelompok adalah kegiatan komunikasi yang berlangsung di antara anggota suatu kelompok.

Pada tingkatan ini, masing-masing individu berperan sesuai kedudukannya dalam kelompok.

Tipe komunikasi ini oleh banyak kalangan dinilai sebagai pengembangan dari komunikasi antarpribadi.

Trenholm dan Jensen (1995) mengatakan, komunikasi antar dua orang yang berlangsung secara tatap muka biasanya bersifat spontan dan informal.

Keberhasilan komunikasi kelompok di sebabkan oleh keterbukaan anggota dalam menanggapi dan merasakan apa yang di rasakan anggota lain, serta dengan senang hati menerima informasi atau pendapat dari anggota lain.

Situasi kelompok yang mendukung komunikasi berlangsung efektif yaitu dengan perasaan positif terhadap diri anggota kelompok.

Doronggan terhadap orang lain agar lebih aktif berpartisipasi dalam kelompok, yakni bahwa semua anggota kelompok memiliki gagasan yang penting untuk yang di sumbangkan kepada kelompok

Tujuan komunikasi kelompok yaitu masing-masing individu memiliki tujuan yang pararel dengan tujuan kelompoknya.

Oleh karena itu, anggota anggota kelompok berusaha untuk mencapai keberhasilan tujuan kelompok dan menghindari ke gagalan tujuan kelompok.

Pergeseran risiko keputusan yang diambil kelompok akan lebih kecil mengandung risiko dari pada keputusan itu di ambil oleh satu anggota kelompok.

4. Komunikasi Antarkelompok atau Asosiasi

Komunikasi antarkelompok atau komunikais antar asosiasi yaitu kegiatan komunikasi yang berlangsung antara suatu kelompok dan kelompok lainnya, atau antara suatu asosiasi dan asosiasi lainnya.

Jumlah pelaku yang terlibat dalam komunikasi jenis ini hanya dua orang atau beberapa orang. Akan tetapi, masing- masing membawakan peran dan kedudukannya sebagai wakil nya masing-masing.

Dengan demikian, pesan yang disampaikan menyangkut kepentingan kelompok/asosiasi. Misalnya, pertemuan antara pengurus ormas A dan ormas B, atau pertemuan antara pengurus sebuah organisasi profesi wartawan dan organisasi profesi pengacara.

5. Komunikasi Organisasi

Komunikasi organisasi pada umumnya membahas struktur dan fungsi organisasi, hubungan antarmanusia, komunikasi dan proses pengorganisasian serta budaya organisasi.

Organisasi sebagai kerangka menunjukkan adanya pembagian tugas antara orang-orang di dalam organisasi itu dan dapat diklasifikasikansebagai tenaga pimpinan dan tenaga yang dipimpin.

Komunikasi diberi batasan sebagai arus pesan dalam suatu jaringan yang sifatnya saling bergantung satu sama lain meliputi arus komunikasi vertical dan horizontal.

Menurut para ahli, organisasi merupakan suatu kesatuan atau perkumpulan yang terdiri atas orang/bagian yang di dalamnya terdapat aktivitas kerja sama berdasarkan pola dan aturan untuk mencapai tujuan bersama.

Dalam komunikasi organisasi mencakup kegiatan komunikasi dalam organisasi dan komunikasi antarorganisasi. Sifat komunikasi organisasi lebih formal dan lebih mengutamakan prinsip-prinsip efisiensi dalam melakukan kegiatan komunikasinya.

Misalnya, pertemuan antara direksi perusahaan A dan para manajernya, surat menyurat antara perusahaan A dan perusahaan B, atau pertemuan antara pimpinan perusahaan A dan pimpinan Departemen B.

6. Komunikasi dengan masyarakat secara luas

Jenis level komunikasi ini yaitu komunikasi yang ditujukan kepada masyarakat secara luas. Bentuk kegiatan komunikasinya dapat dilakukan melalui dua cara.

a. Komunikasi massa, yaitu komunikasi melalui media massa, seperti radio, majalah, surat kabar, dan televise.

b. Tanpa melalui media massa, misalnya ceramah atau pidato di lapangan terbuka. Sifat isi pesan komunikasi yang disampaikan menyangkut kepentingan orang tidak bersifat pribadi.

Level Komunikasi versi Patidar

Selain level komunikasi di atas, ada juga level komunikasi yang dikemukakan Anurag Bhai Patidar dalam bukunya, Communication and Nursing Education (Pearson Education India, 2012).

Patidar menyebutkan lima level komunikasi, yaitu Intrapersonal Communication (Komunikasi Intrapribadi), Interpersonal Communication (Komunikasi Antarpribadi), Transpersonal Communication (Komunikasi Transpribadi), Small-group Communication (Komunikasi Kelompok-Kecil), Public Communication (Komunikasi Publik).

Patidar menambahkan satu lagi level komunikasi, yaitu Social Communication (Komunikasi Sosial).

1. Komunikasi Intrapersonal

Intrapersonal Communication (Komunikasi Intrapribadi) yaitu komunikasi seseorang dengan dirinya sendiri (communication with the self).

Tipe komunikasi intrapribadi sama dengan proses berpikir, yaitu ketika seseorang secara sadar (sengaja) mengirimkan informasi pada dirinya untuk menganalisis sebuah situasi dan mengambil sikap atau keputusan.

2. Komunikasi Intrapersonal

Interpersonal Communication atau Komunikasi antarpribadi merujuk pada interaksi antara dua orang –lazimnya terjadi secara tatap muka (face to face).

Tujuan komunikasi antarpribadi biasanya untuk berbagi (share) informasi, pendapat, gagasan (ide), dan sebagainya.

Komunikasi Antarpribadi dapat dibagi menjadi tiga tipe:

  1. Assertive Communication (Komunikasi Asertif).
  2. Nonassertive Communication (Komunikasi Nonasetif)
  3. Aggressive Communication (Komunikasi Agresif).

Ciri-ciri (karakterstik) komunikasi asertif a.l. dengan percaya diri mengekspresikan yang Anda pikirkan, rasakan, dan percayai; dengan lantang membela hak Anda seraya menghormati hak orang lain; menyampaikan maksud dan harapan tanpa menghina, mempermalukan, atau merendahkan orang lain; respek terhadap kebutuhan dan hak diri sendiri dan orang lain.

Ciri-ciri komunikasi nonasertif a.l. ketidakmampuan mengekspresikan pemikiran, perasaan, dan keyakinan secara konsisten; membolehkan orang lain untuk melanggar hak Anda tanpa tantangan; kurang menghargai preferensi sendiri; orang lain dengan mudah mengabaikan pemikiran, perasaan, dan keyakinan Anda.

Ciri-ciri komunikasi agresif a.l. mengekspresikan diri dengan cara mengintimidasi, menghina, atau merendahkan orang lain serta meraih keinginan dengan cara merusak hak-hak orang lain.

3. Komunikasi Transpersonal

Komunikasi Transpersonal yaitu komunikasi yang terjadi dalam domain spiritual seseorang.

Tujuan komunikasi transpersonal yaitu untuk memunculkan kesadaran tentang diri (self-hood), meningkatkan spiritualitas, lebih cenderung bersifat vertikal –mengutamakan hubungan spiritual seseorang dengan Tuhannya.

4. Komunikasi Small-group

Yaitu komunikasi yang terjadi dalam sebuah grup kecil. Tujuannya untuk menyampaikan informasi yang menjadi kebutuhan atau ketertarikan anggota kelompok atau kadang-kadang untuk mengetahui pendapat anggota kelompok tentang suatu masalah atau membuat sebuah keputusan.

5. Komunikasi Publik

Publik biasanya dipahami sebagai sebuah kelompok besar orang (large group of people). Ringkasnya, komunikasi kepada orang banyak (massa).

Komunikasi publik sering disetarakan dengan komunikasi massa, yakni komunikasi melalui media massa, meski komunikasi publik tidak selalu dilakukan melalui perantara media massa.

Komunikasi publik juga sering dipahami sebagai berbicara di depan orang banyak (public speaking) yang membutuhkan keterampilan komunikasi khusus (special communication skills), seperti gestur, suara, dan bahan media yang harus digunakan untuk mengkomunikasikan pesan secara efektif.

6. Komunikasi Sosial

Social Communication atau Komunikasi sosial yaitu komunikasi yang terjadi dalam konteks sosial, yaitu membina hubungan dengan sesama manusia dalam kehidupan sehari hari.

Sapaan “Selamat Pagi, Apa Kabar?” “Bagaimana kabar anak-anak Anda?” masuk dalam level komunikasi sosial.

 

level komunikasi
level komunikasi

Demikian pengertian dan tingkatan atau level komunikasi.

Sumber:

  • Onong Uchjana Effendy, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek, (Bandung: Remaja Rosdakarya,1997)
  • Deddy Mulyana, Ilmu Komunikasi,Suatu Penganta, (Bandung: Rosda Karya, 2000).
  • Suryanto, Pengantar Ilmu Komunikasi, (Bandung:Pustaka Setia, 2015).

 

Komunikasi Politik: Pengertian, Fungsi, Unsur, dan Proses

Komunikasi Politik: Pengertian, Fungsi, Unsur, dan Proses

Komunikasi politik (political communication) merupakan salah satu jenis komunikasi berdasarkan pesan yang disampaikan.

Komunikasi biasanya diartikan sebagai pembagian sesuatu di antara manusia, bisa berupa informasi, gagasan, perilaku, pengertian atau pengalaman.

Penulis buku Komunikasi Politik, Dan Nimmo, mendefinisikan komunikasi sebagai proses interaksi sosial yang digunakan orang untuk menyusun makna yang merupakan citra mereka mengenai dunia dan untuk bertukar citra itu melalui simbol-simbol.

Komunikasi dalam pengertian yang dasar bisa dilihat dari pendapat Harold Laswell, yaitu who says what, in which channel, to whom with what effect.

Dari pengertian ini diperoleh unsur-unsur komunikasi, yaitu komunikator (who), komunikan (whom), pesan (what), media (channel) dan pengaruh (effect).

Politik didefinisikan secara beragam. Ada yang mengartikannya sebagai kebijakan umum, ada juga kekuasaan, bahkan ada yang menyamakan politik dengan konflik.

Menurut Harold Laswell politik adalah who gets what, when, how artinya siapa mendapatkan apa, kapan dan bagaimana.

who gets what, when, how

Menurut Dan Nimmo, politik adalah kegiatan orang secara kolektif yang mengatur perbuatan mereka dalam kondisi konflik.

Pengertian Komunikasi Politik

Komunikasi Politik adalah komunikasi yang melibatkan pesan-pesan politik dan aktor-aktor politik, atau berkaitan dengan kekuasaan, pemerintahan, dan kebijakan pemerintah.

Komunikasi politik merupakan aktivitas pesan orang-orang yang melakukan kegiatan politik, dalam bentuk memengaruhi dan menstimulus orang lain untuk melakukan kegiatan politik, baik pada tingkatan hubungan antar suprastruktur dan infrastruktur.

Menurut Dan Nimmo (2000), komunikasi politik adalah cara seseorang bertukar simbol, kata-kata yang dituliskan dan diucapkan, gambar, gerakan, sikap tubuh, perangai dan pakaian.

Effendy (1989) menjelaskan bahwa komunikasi politik merupakan suatu aktivitas pertukaran pesan yang dilakukan seseorang, kelompok orang, atau suatu lembaga dalam upaya memperoleh kewenangan untuk membela rakyat, baik dalam fungsi sebagai pelaksana pemerintahan maupun sebagai anggota sebuah struktur sosial masyarakat, dan dapat mempengaruhi suatu kebijakan sistem kekuasaan atau pemerintah dalam berbagai komponen.

Definisi komunikasi politik juga dipertegas oleh Harsono Suwardi (1997).

Menurutnya, komunikasi politik dapat dilihat dalam arti sempit komunikasi politik adalah setiap bentuk penyampaian pesan, baik dalam bentuk lambanglambang maupun dalam bentuk kata-kata tertulis, terucapkan, ataupun dalam bentuk isyarat yang mempengaruhi kedudukan seseorang yang ada dalam suatu struktur kekuasaan tertentu.

Sedangkan dalam arti luas, komunikasi politik adalah setiap jenis penyampaian pesan, khususnya yang bermuatan info politik dari suatu sumber kepada sejumlah penerima pesan.

Sebagai disiplin ilmu, komunikasi politik mempelajari mata rantai antara komunikasi dan politik atau jembatan metodologis antara disiplin komunikasi dan politik.

Menurut Harold Lasswell, politik adalah suatu ilmu yang berkaitan dengan kekuasaan.

Menurut Dahlan, komunikasi politik adalah suatu disiplin ilmu yang menelaah perilaku dan aktivitas komunikasi yang bermuatan politik, memilki akibat politk maupun memiliki pengaruh pada perilaku dan aktivitas politik. Komunikasi politik ini bisa didefinisikan sebagi proses komunikasi yang memiliki akibat kepada tindakan yang bersifat politik.

Kajian Komunikasi politik biasanya berpusat pada pembahasan tentang Opini publik. Hal ini terjadi karena sasaran komunikasi politik sendiri adalah bagaimana bisa menguasai dan mengarahkan opini publik sehingga bisa memberi manfaat bagi pelaku komunikasi politik (komunikator)

Unsur Komunikasi Politik

Komunikasi politik terdiri dari komunikator politik, komunikan politik, pesan politik, media politik dan efek politik.

Setiap unsur komunikasi politik ini memiliki sifat dan tujuan yang khas. Masing masing dari unsur komunikasi politik ini pastinya memilki fungsi untuk mencapai tujuan dari komunikasi politik itu sendiri.

1. Komunikator Politik

Pada komunikasi politik komunikator politik didefinisikan sebagai individu-individu yang berada dalam suatu instusi, asosiasi, partai politik, lembaga-lembaga pengelola media massa dan tokoh-tokoh masyarakat.

Komunikator politik bisa berupa negara, badan badan internasional dan mereka yang mendapat tugas atas nama negara. Komunikator merupakan unsur yang berperan sangat penting dalam suatu kegiatan komunikasi politik.

Komunikator politik akan memberikan nuansa yang signifikan pada aktivitas komunikasi politik itu sendiri.

Dalam komunikasi jenis ini, komunikator memiliki kekuasaan tertinggi dengan kendali untuk mengelola jalur transmisi informasi politik.

Para komunikator politik ini pula lah yang memiliki kekuasaan dalam menentukan kebijakan nasional. Dengan kendali dan kekuasaan yang besar ini, maka komunikator politik harus memenuhi beberapa syarat, sebagai berikut:

2. Komunikan Politik

Komunikan didefinisikan sebagai seseorang atau sekelompok orang yang berperan sebagai subyek yang dituju oleh komunikator atau si pengirim atau penyampai informasi.

Komunikan diartikan juga sebagai orang yang menerima pesan-pesan, berita, informasi, pengertian dalam bentuk lambang-lambang yang mengandung arti atau makna.

Komunikan politik artinya mereka yang mendapat informasi berupa hal yang bersangkutan dengan politik.

Komunikan merupakan unsur yang paling penting untuk mencapai suatu komunikasi politik yang efektif. Apabila diantara komunikator dengan komunikan terjadi kesalah pahaman dalam melakukan komunikasi politik. sebaliknya, apabila di antara keduanya terjadi komunikasi yang efektif, akan menimbulkan komunikasi politik yang tersampaikan langsung terkait inti dan tujuan dari politik tersebut.

3. Isi atau Pesan Komunikasi Politik

Informasi yang ada dalam komunikasi politik adalah hasil atau produk dari keputusan para penguasa. Pesan dalam komunikasi politik telah diformulasikan dalam simbol yang sesuai dengan kekuasaam.

Isi atau pesan dari komunikasi politik ini terdiri dari hal hal berikut:

  • Gabungan beberapa norma yang mengatur lalu lintas pengiriman pesan.
  • Panduan dan nilai-nilai idealis yang memilki tujuan untuk mempertahankan dan melestarikan nilai pada masyarakat.
  • Metode maupun cara pendekatan dengan tujuan mewujudkan karakter integratif bagi masyarakat yang hidup dalam suatu lingkungan.
  • Ciri khas yang menunjukkan identitas negara.
  • Motivasi dasar yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas kehidupan berbangsa dan bernegara.

Komunikasi politik di dalam prosesnya berada pada struktur formal. Pesan-pesan komunikasi disampaikan dengan memakai jenjang yang ada di struktur kekuasaan. Dari struktur ini, pesan akan sampai dari penguasa ke sasaran.

4. Media Komunikasi Politik

Peran Media komunikasi politik sangat penting dalam proses komunikasi politik. Media politik bisa menjadi pusat perhatianpara penguasa karena dapat dijadikan alat untuk mendapat legitimasi rakyat.

Dalam memutuskan dan menjalankan suatu kebijakan, sangat penting bagi pemimpin untuk mendapat persetujuan dan suara dari rakyatnya.

Dukungan dari masyarakat dapat memperkuat pemerintahan yang berkuasa. Cara untuk memperkuat kekuasaan ini salah satunya adalah dengan memberikan pesan politis dalam suatu media komunikasi politik.

Pesan politis ini tentunya telah diwakili oleh simbol simbol kekuasaan.

5. Tujuan Komunikasi Politik

Tujuan dari komunikasi politik selalu berhimpit dan melembaga dengan tujuan dari negara. Untuk mencapai tujuan ini, sumber komunikasi politik harus diatur secara baik dan bijak melalui suatu perencanaan yang matang.

Bentuk dari tujuan yang akan dicapai bergantung pada sistem politik yang berlaku. Tujuan komunikasi politik akan tampak ideal sesuai dengan kentuan normatif suatu sistem yang berlaku.

Melakukan Komunikasi politik bukan tidak mungkin tidak memiliki tujuan politik. Oleh karena itu, menentukan tujuan dari komunikasi politik yang bagus, efisien, dan mampu mengambil hati rakyat sangatlah penting demi tercapainya suatu komunikasi politik yang efektif.

6. Efek Komunikasi Politik

Efek didefinisikan sebagai suatu proses penerimaan informasi dari komunikator. Efek adalah kesan atau pengaruh yang ditimbulkan oleh komunikan setelah ia menerima berita atau informasi.

Efek komunikasi dapat memilki kelanjutan dengan adanya tanggapan atau jawaban yang biasa kita kenal sebagai feedback. Dengan adanya feedback, akan timbul rasa saling mengerti antar pemberi dan penerima informasi.

Dalam komunikas politik, diperlukan efek komunikasi yang membuat komunikan mengerti akan isi komunikasi.

Efek komunikasi politik yang baik adalah terjadinya kesepakatan bersama dari komunikan, dalam hal ini masyarakat terhadap isi pesan yang disampaikan oleh komunikator, yang dalam hal ini mereka yang memiliki kekuasaan, baik struktural maupun non struktural.

7. Sumber Komunikasi Politik

Suatu sumber komunikasi juga akan menentukan kualitas dan tingkat kredibelitas dari proses komunikasi. Sumber komunikasi didefinisikan sebagai asal keluarnya informasi yang bisa dijadikan sebagai materi isi komunikasi.

Sumber komunikasi politik bisa berasal dari suatu individu ataupun elit politik tertentu. Bila info dianggap berharga makan sumber komunikasi politik tersebut akan mendapat pendengar. Sangat penting bagi elit politik untuk menjadi sumber komunikasi politik yang baik bagi masyarakatnya.

Fungsi Komunikasi Politik

Komunikasi politik juga memiliki tujuan dan fungsi tersendiri. Menurut pendapat ahli bernamaMcNair, komunikasi memiliki beberapa fungsi sebagai berikut:

  • Menyampaikan informasi pada masyarakat tentang apa yang sedang terjadi dan berkembang di sekitar masyarakat. Media komunikasi politik berfungsi sebagai alat pengamatan dan monitoring untuk mengetahui bagaimana kondisi masyarakat sekitar.
  • Memberikan pendidikan politik terhadap masyarakat tentang arti dan makna dari fakta yang terjadi di masyarakat itu sendiri. Media komunikasi politik memilki kewajiban untuk melihat suatu fakta secara objektif sehingga dapat menyajikannya kepada masyarakat dengan objektif pula. Dengan ini, diharapkan komunikasi politik bisa mendidik masyarakat berdasarkan kejadian dan realitas yang terjadi di masyarakat
  • Menjadi sarana untuk menampung masalah politik yang berkembang di masyarakat. Dengan adanya media komunikasi politik, masalah politik dapat dibahas secara gamblang dan media dapat membentuk opini publik. Media komunikasi politik juga berkewajiban menyampaikan hasil opini publik ke masyarakat itu sendiri
  • Menjadi sarana publikasi bagi pemerintahan negara maupun lembaga lembaga yang bersifat politik
  • Menjadi sarana advokasi bagi kebijakan politik. Komunikasi politik dapat membantu program dan kebijakan politik dapat disalurkan dan disampaikan di media massa.

Komunikator Politik

Komunikator politik adalah orang yang secara tetap dan berkesinambungan melakukan komunikasi politik.

Komunikator politik itu terdiri dari tiga jenis:

1. Politikus

Politikus atau politisi yaitu orang yang terjun dalam dunia politik, baik calon maupun yang memegang jabatan di eksekutif, legislatif dan yudikatif.

2. Profesional

Komunikator profesional yaitu orang yang menginterpretasikan kejadian politik seperti wartawan, atau PR (humas).

3. Aktivis

Aktivis yaitu orang yang mempunyai kepedulian dengan masalah politik dalam istilah lain voluntary (sukarelawan).

Tujuan Komunikasi Politik: Opini Publik

Salah satu tujuan komunikasi politik adalah membentuk opini publik.

Berbicara tentang opini publik maka kita harus mengkaji dulu definisi opini.

Opini adalah tindakan mengungkapkan apa yang dipercayai, dinilai dan diharapkan seseorang dari objek dan situasi tertentu.

Opini memiliki beberapa proses yang dikenal dengan konstruksi, yaitu:

1. Konstruksi personal.

Opini berupa pengamatan dan interpretasi atas sesuatu secara sendiri-sendiri dan subjektif.

2. Konstruksi sosial.

Konstruksi sosial terdiri dari:

  • Opini kelompok. Opini pribadi di atas kemudian diangkat dalam kelompok tertentu. Maka jadilah opini kelompok.
  • Opini rakyat Opini yang tersistematiskan melalui jalur yang bebas seperti pemilihan umum atau hasil polling.
  • Opini massa yaitu opini yang berserakan, ini bisa berbentuk budaya atau konsensus. Inilah yang oleh para politikus disebut sebagai opini publik.

3. Konstruksi politik.

Ketiga opini hasil konstruksi sosial di atas dihubungkan dengan kegiatan pejabat publik yang mengurus masalah kebijakan umum. Inilah opini publik yang dikaji dalam komunikasi politik.

 

Manajemen Humas, Public Relations Management

Manajemen Humas, Public Relations Management PRM

Humas atau hubungan masyarakat harus dikelola dengan baik. Berikut ini konsep manajemen humas atau Public Relations Management (PRM) sebagai panduan praktisi humas, khususnya level manajer atau kabag humas.

Sebagaimana manajemen pada umumnya, manajemen humas terkait pemanfaatkan berbagai potensi sumber daya yang terangkum dalam 6M, yaitu:

  1. Men (sumber daya manusia),
  2. Material (sumber),
  3. Machine (alat),
  4. Money (biaya),
  5. Methode (metode),
  6. Market (sasaran).

Keberhasilan humas dalam menunjang fungsi-fungsi manajemen tergantung kepada kemampuan memanfaatkan unsur-unsur sumber daya yang dimiliki sebuah organisasi/lembaga.

Oleh karena itu, humas dituntut untuk memiliki kemampuan mengkoordinasikan seluruh sumber daya yang ada dalam organisasi atau lembaga.

Manajemen humas merupakan bagian yang melekat (koheren) dengan aktivitas humas dalam organisasi atau perusahaan.

Pengertian Manajemen Humas

Secara bahasa dan praktis, manajemen humas artinya pengelolaan humas.

Dalam bahasa Inggris, manajemen humas disebut Public Relations Management (PRM). Sentralnya adalah membangun hubungan (relationship).

Menurut Cutlip, Center, dan Broom dalam Effective Public Relations (1952) sebagaimana dikutip PR Academy, humas adalah fungsi manajemen yang membangun dan memelihara hubungan yang saling menguntungkan antara organisasi dan publik yang menjadi sandaran keberhasilan atau kegagalannya.

Menurut Mc Elreath (dalam Ruslan, 2014) pengertian manajemen humas adalah proses penelitian, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi suatu kegiatan komunikasi yang disponsori oleh organisasi atau lembaga.

Kegiatan komunikasi dalam manajemen humas ini mulai dari pertemuan kelompok kecil hingga berkaitan dengan konferensi pers international, dari pembuatan brosur hingga kampanye nasional melalui multimedia, dari menyelenggarakan open house hingga kampanye politik, dari pengumuman pelayanan publik hingga menangani kasus manajemen krisis.

Proses Manajemen Humas

Definisi atau pengertian di atas menunjukkan manajemen humas terdiri atas beberapa proses, yaitu penelitian, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.

1. Penelitian Humas

Penelitian dalam kegiatan kehumasan adalah pengumpulan informasi secara sistematis untuk menggambarkan, memahami situasi, dan untuk mengecek asumsi tentang publik dan konsekuensi humas.

Tujuan utamanya adalah untuk mengurangi ketidakpastian dalam pembuatan keputusan.

Kendati tidak bisa menjawab semua pertanyaan atau memengaruhi semua keputusan, penelitian yang sistematis dan metodis adalah dasar dari humas yang efektif (Cutlip, Center, Broom, 2009).

Penelitian mempunyai dua fungsi, yaitu:

  1. Pada tingkat makro, memberi masukan bagi manajemen dalam proses pengambilan keputusan. Penelitian berguna sebagai bahan pertimbangan organisasi dalam beradaptasi dengan lingkungan yang berubah.
  2. Pada tingkat mikro, memberi masukan bagi bagian humas dalam menyusun program. Penelitian dilakukan untuk menyusun, memantau, atau mengevaluasi program humas (Putra, dalam Ardianto, 2011).

Pakar humas Frank Jefkins (2003) membagi metode penelitian humas kepada beberapa bagian, yaitu:

a. Penelitian kepustakaan, yaitu mempelajari data-data statistik, laporan-laporan, dan hasil-hasil dari berbagai survei

b. Penelitian lapangan, yaitu mengadakan wawancara dengan sejumlah responden di lapangan

c. Penelitian tambahan, yaitu melengkapi hasil dari penelitian yang terdahulu

d. Penelitian berkesinambungan, yaitu penelitian yang dilakukan secara periodik untuk mengetahui perubahan pada suatu objek.

Jadi, penelitian humas dilakukan untuk memahami masalah secara lebih akurat sehingga dapat diusulkan program dan pemecahan masalah yang tepat.

Penelitian humas akan memberikan informasi awal yang diperlukan, baik dalam perencanaan program maupun dalam evaluasi.

Menurut Barkelew (dalam Cutlip, Center, Broom: 2009), kegiatan humas tidak akan bisa dilaksanakan secara berhasil atau efektif, tanpa menggunakan riset.

Tips: karena penelitian humas berintikan pengumpulan informasi, maka di era internet, praktisi humas bisa menggunakan Lansiran Google untuk media monitoring secara online.

2. Perencanaan Humas

Perencanaan sebagai langkah untuk menentukan terlebih dulu apa yang harus dilakukan oleh organisasi dan bagian atau personel yang berada di dalammnya, untuk mencapai objektif suatu organisasi (McLaughlin, dalam Iriantara, 2010).

Frank Jefkins (2003) menjelaskan, tujuan perencanaan dalam sebuah manajemen humas, yaitu:

  1. Untuk menetapkan target operasional PR yang akan dijadikan sebagai tolak ukur atas hasil yang dicapai
  2. Untuk memperhitungkan jam kerja dan biaya yang diperlukan
  3. Untuk menyusun skala prioritas
  4. Untuk menentukan personil, peralatan, dan anggaran.

Perencanaan berkaitan dengan penyusunan rangkaian kegiatan yang akan dilakukan dengan mempertimbangkan sumber daya yang tersedia.

Djudju Sudjana (dalam Iriantara, 2010) merinci karakteristik perencanaan humas sebagai berikut:

  1. Perencanaan merupakan model pengambilan keputusan secara rasional dalam memilih dan menetapkan tindakan untuk mencapai tujuan
  2. Perencanaan berorientasi pada perubahan dari masa sekarang pada pada masa yang akan datang
  3. Perencanaan melibatkan orang-orang dalam menentukan masa depan yang diinginkan
  4. Perencanaan memberi arah mengenai bagaimana, kapan, dan siapa yang terlibat dalam sebuah tindakan
  5. Perencanaan melibatkan perkiraan kegiatan yang akan dilakukan, meliputi keberhasilan, sumber daya yang digunakan, faktor pendukung dan penghabat serta resiko dari sebuah tindakan
  6. Perencanaan berhubungan dengan penentuan perioritas dan urutan tindakan yang akan dilakukan
  7. Perencanaan sebagai titik awal dan arahan dalam kegiatan pengorganisasian, penggerakan, pembinaan, dan pengembangan.

3. Pelaksanaan Humas

Pelaksanaan dalam sebuah manajemen terdiri atas beberapa kegiatan, yaitu:

  1. Pengorganisasian (organizing) yang berkaitan dengan sumber daya manusia yang diperlukan.
  2. Penyusunan (staffing) yang berkaitan dengan penempatan orang pada pekerjaan yang harus dilakukan.
  3. Pengarahan (directing) yang berkaitan dengan cara melakukan tindakan.
  4. Pengawasan (controlling) yang berkaitan dengan koreksi atas kekeliruan dalam menjalankan tindakan.
  5. Penilaian (evaluating) untuk mengukur tingkat pencapaian tujuan (Iriantara, 2010).

George Terry (dalam Iriantara, 2010) menjelaskan, pengorganisasian merupakan kegiatan yang dilakukan untuk menghimpun dan menyusun semua sumber daya yang diisyaratkan dalam rencana sehingga kegiatan mencapai tujuan yang sudah ditetapkan bisa dilaksanakan dengan baik.

Menurut Djudju Sudjana (dalam Iriantara, 2010), pengorganisasian dilakukan dengan langkah, di antaranya:

  1. Penentuan tugas pekerjaan yang akan dilakukan dengan mempertimbangkan kebijakan dan aturan yang berlaku
  2. Memilah-milah pekerjaan dengan pengelompokan tugas
  3. Menentukan pembagian batas-batas tugas pekerjaan
  4. Penyusunan organisasi dan personil
  5. Penetapan prosedur, metode, dan teknik kegiatan yang cocok untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Penyusunan sumber daya manusia dilakukan setelah pengorganisasian. Penyusunan dilakukan berdasarkan dua pendekatan yaitu kuantitas dan kualitas sumber daya manusia.

Pendekatan kuantitas berdasarkan kepada berapa banyak sumber daya manusia yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas. Pendekatan kualitas berdasarkan kepada kualifikasi atau kapabilitas yang diperlukan untuk mengisi kelompok tugas (Iriantara, 2010).

Pengarahan merupakan tahapan yang dilakukan setelah pengorganisasian dan kelompok tugas sudah terisi oleh tenaga yang kualifikasinya sesuai dengan kebutuhan.

Pengarahan bertujuan untuk mengkoordinasikan bagian-bagian tugas agar tetap berjalan dengan baik dalam mencapai tujuan yang sudah ditetapkan sebelumnya.

Fungsi pengarahan adalah agar orang-orang yang terlibat tidak sampai kehilangan arah dalam mencapai tujuan program atau kegiatan. Pengarahan dilakukan dengan memberikan koreksi dan motivasi untuk bekerja lebih baik.

Pengarahan bisa dilakukan dalam bentuk formal seperti pada rapat koordinasi. Dan bentuk informal seperti pada saat makan bersama (Iriantara, 2010).

Pengawasan merupakan bagian dalam proses manajemen yang berfungsi untuk menetapkan pekerjaan apa yang sudah dilakukan, menilai pekerjaan, dan mengoreksi bila diperlukan dengan maksud agar pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan rencana. Tujuan pengawan adalah untuk mengusahakan apa yang direncanakan bisa menjadi kenyataan (Manullang, dalam Iriantara, 2010: 138).

4. Evaluasi Humas

Evaluasi merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengetahui apakah tujuan yang ditetapkan tercapai atau tidak, dan untuk menilai apakah kegiatan berjalan sesuai dengan rencana.

Penilaian dilakukan dengan membandingkan antara hasil nyata dengan hasil yang diharapkan.

Evaluasi bisa dilakukan pada kegiatan tengah berjalan, atau pada akhir kegiatan. Tujuan penilain sebagai upaya untuk melakukan tindakan perbaikan (Manullang, Iriantara, 2010).

Walter K. Lindenmann (dalam Iriantara, 2010: 152), membagi empat komponen dalam pengukuran dan evaluasi program PR, yaitu:

  1. Menetapkan tujuan dan objektif spesifik yang bisa diukur, yaitu dengan menjelaskan tujuan yang akan dicapai dan sumber daya yang akan digunakan dalam pencapaian tujuan
  2. Mengukur keluaran PR, yaitu hasil yang dicapai dari suatu program secara langsung dan berjangka pendek, baik secara kuantitatif (jumlah siaran pers) maupun kualitatif (menilai pemberitaan secara baik dan buruk)
  3. Mengukur dampak PR, yaitu mengukur terjadinya perubahan sikap, pendapat dan perilaku, tahap ini lebih sulit dan memerlukan biaya
  4. Mengukur dampak bisnis dan atau organisasi, yaitu mengaitkan dampak program dengan dampak pada organisasi, karena program PR adalah bagian dalam mewujudkan tujuan organisasi.

Djudju Sudjana (Iriantara, 2010) membagi pendekatan evaluasi kepada:

  1. Evaluasi untuk pengambilan keputusan
  2. Evaluasi pada bagian tertentu dari program
  3. Evaluasi jenis data dan efektivitas
  4. Evaluasi atas proses evaluasi
  5. Evaluasi pencapaian tujuan yang menilai tujuan program apakah tercapai atau tidak
  6. Evaluasi atas hasil dan dampak yang menilai dari dampak program.

Pelaksanaan fungsi manajemen mulai dari perencanaan, implementasi, kontrol, dan evaluasi merupakan sebuah sistem yang berjalan secara sirkuler.

Perencanaan akan menjadi pedoman bagi implementasi, kontrol dan evaluasi. Implementasi dan kontrol akan menjadi masukan bagi evaluasi.

Evaluasi menjadi masukan dan bahan dasar untuk penyusunan program. Bila salah satu mata rantai dalam siklus fungsi manajemen itu terputus, maka akan terjadi gangguan pada kinerja organisasi.

Terganggunya kinerja organisasi akan berdampak pada upaya pencapaian tujuan atau visi dan misi organisasi (Iriantara, 2010: 160).

Rosady Ruslan (2014: 37), fungsi humas dalam implementasi manajemen humas secara operasional teknisnya terdiri atas:

  1. Penelitian, yaitu upaya memperoleh data primer dan sekunder, seperti opinion research secara kualitatif dan kuantitatif
  2. Perencanaan, yaitu penyusunan suatu program acara, agenda atau program kerja humas
  3. Pengkoordinasian, yaitu mengkoordinir satu tim kerja ke dalam tim yang solid dalam mencapai tujuan organisasi
  4. Administrasi, yaitu yang berkaitan dengan kegiatan dokumentasi, pengarsipan, dan pencatatan keluar masuknya uang
  5. Produksi, yaitu bentuk produk publikasi dan promosi yang dikelola oleh humas
  6. Partisipasi komunitas, yaitu partisipasi humas dalam komunikasi timbal balik dengan komunitas masyarakat tertentu untuk menciptakan citra positif bagi lembaga yang diwakilinya
  7. Nasihat, yaitu memberikan sumbang saran kepada manajemen berkenaan dengan kebijakan organisasi.

pengertian humas

Keterampilan Humas (PR Skills)

Humas merupakan salah satu pekerjaan (profesi) yang harus dikelola secara profesional dan penuh konsentrasi.

Seorang humas harus memiliki kemampuan dalam manajemen teknis dan keterampilan manajerial guna memudahkan dalam mencapai suatu tujuan secara efektif dan efisien.

Frank Jefkins (2003) menyebutkan beberapa kriteria yang harus dimiliki oleh seorang humas, yaitu:

  1. Kemampuan menghadapi semua orang dengan aneka ragam karakter
  2. Mampu berkomunikasi dengan baik secara lisan dan tulisan
  3. Kemampuan mengorganisasikan sesuatu
  4. Memiliki integritas personal
  5. Memiliki imajinasi (banyak ide kreatif)
  6. Kemampuan mencari tahu
  7. Mampu melakukan penelitian

Di era kehumasan online, seorang praktisi humas harus pula memiliki keterampilan mengelola media online, khususnya website dan media sosial, sebagai media baru dalam kegiatan kehumasan modern.

Era internet mengharuskan tiap lembaga memiliki website resmi untuk kehadiran online (online presence) sekaligus membangun reputasi online (e-reputation) sebagai alat humas online.

Dalam membangun reputasi online, ada juga konsep dan strategi manejemen reputasi online atau Online Reputation Management (ORM), sebagaimana terangkum dalam gambar berikut ini:

Demikian pengertian dan ruang lingkup manajemen humas.

Referensi Manajemen Humas:

  • Iriantara, Yosal. 2010. Community Relations Konsep dan Aplikasinya. Bandung: Simbiosa
  • Jefkins, Frank. 2003. Public Relations. Jakarta: Erlangga
  • Ruslan, Rosady. 2014. Manajemen Humas dan Media Komunikasi. Jakarta: Rajawali Pers
  • Cutlip, Center, Broom. 2009. Effektive Public Relations. Jakarta: Kencana
  • Ardianto, Elvinaro. 2011. Metodologi Penelitian untuk Public Relations Kuantitatif dan Kualitatif. Bandung: Simbiosa.

 

Humas Pemerintah: Tugas Pokok, Fungsi, dan Tantangan

pengertian humas

Humas adalah bagian, divisi, unit, atau departemen di sebuah lembaga yang bertugas menangani informasi dan komunikasi dengan publik.

Humas –singkatan dari Hubungan Masyarakat– atau Public Relations (PR)–  bisa dikatakan sebagai juru bicara sekaligus “corong” sebuah lembaga dalam penyebarluasan informasi dan berkomunikasi dengan publik.

Pengertian Humas Pemerintah

Pemerintahan juga memiliki humas. Dalam bahasa Inggris, humas pemerintah disebut Government Public Relations (GPR).

Di Indonesia, humas pemerintah pusat berupa kementerian, yakni Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo).

Kementerian ini sebelumnya bernama Departemen Penerangan (1945-1999), Kementerian Negara Komunikasi dan Informasi (2001-2005), dan Departemen Komunikasi dan Informatika (2005-2009).

Di tingkat pemerintahan provinsi dan kabupaten/kota, ada Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo). Salah satu tugasnya adalah Perumusan kebijakan teknis di bidang komunikasi, informatika dan hubungan masyarakat.

Humas pemerintah merupakan ujung tombak dalam menyampaikan program dan kinerja pemerintah.

Selain itu, humas pemerintah juga sebagai corong atau sumber informasi.

Humas pemerintah diharapkan dapat meningkatkan pelayanan dan pengelolaan informasi di setiap instansi, serta mampu mendorong partisipasi masyarakat dalam mensukseskan berbagai program pemerintah.

Humas pemerintah disebut sebagai Public Affairs, Pejabat Penerangan, atau Pejabat Humas.

Scott M. Cutlip, Aleen H. Center, Glen M. Broom (2009: 484) mendefinisikan humas pemerintah sebagai fungsi manajemen yang membantu agar agen, departemen, dan entitas publik lainnya dapat responsif terhadap warga yang mereka layani.

Keputusan Menteri Komunikasi dan Informatika tahun 2007 tentang Kode Etik Humas Pemerintahan menyebutkan, humas pemerintahan adalah segenap tindakan yang dilakukan oleh suatu instansi/pemerintahan dalam usaha membina hubungan yang harmonis dengan khalayak internal dan ekternal dan membina martabat instansi/pemerintahan dalam pandangan khalayak internal dan ekternal guna memperoleh pengertian, kepercayaan, kerjasama, dan dukungan dari khalayak internal dan ekternal dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya.

Humas pemerintah merupakan salah satu bagian khusus dari spesialisasi humas yang menjalankan fungsi manajemen untuk membangun dan mempertahankan hubungan yang harmonis dalam rangka melayani dan mempengaruhi kebijakan publik guna memperoleh pengertian, kepercayaan, kerjasama, dan dukungan dari khalayak internal dan ekternal.

Tugas, Fungsi, dan Tujuan Humas Pemerintah

Scott M. Cutlip, Aleen H. Center, Glen M. Broom (2009: 466) menyebutkan tujuh tujuan dari humas pemerintah, yaitu:

  1. Memberi informasi konstituen tentang aktivitas agen pemerintah
  2. Memastikan kerja sama aktif dalam program pemerintah
  3. Mendorong warga mendukung kebijakan dan program yang sudah ditetapkan
  4. Melayani sebagai advokat publik untuk administrator pemerintah
  5. Mengelola informasi internal
  6. Memfasilitasi hubungan dengan media
  7. Membangun komunitas dan bangsa

Humas pemerintah bertugas menjalankan kebijakan publik dan pelayanan publik.

Dalam kebijakan publik, humas bertugas memberikan berbagai informasi tentang kebijakan pemerintahan yang mengikat rakyat.

Dalam pelayanan publik, humas bertugas memberikan pelayanan terbaik, dengan birokrasi yang mudah untuk memberikan kepuasan kepada masyarakat.

Tujuan utama humas pemerintah adalah, sebagaimana tujuan utama humas pada umumnya, pemerintahan memperoleh citra dan reputasi yang positif.

Bertrand R. Canfield (dalam Ardianto, 2013:241) menjelaskan bahwa fungsi humas pemerintah terdiri atas:

  1. Mengabdi kepada kepentingan umum
  2. Memelihara komunikasi yang baik
  3. Menitikberatkan pada moral dan tingkah laku yang baik

Humas pemerintah mempunyai peran ke luar dengan berupaya memberikan informasi kepada masyarakat sesuai dengan tujuan dan kebijaksanaan lembaga.

Sedangkan peran ke dalam dengan menyerap reaksi, aspirasi atau opini khalayak demi kepentingan bersama. Oleh karena itu, humas pemerintah lebih menekankan kepada public service atau meningkatkan pelayanan umum.

Rosady Ruslan (2014: 342) menjelaskan tugas pokok humas pemerintah Indonesia mencakup kepada:

  1. Mengamankan kebijakan pemerintah
  2. Memberikan pelayanan, menyebarluaskan informasi kebijaksanaan dan program-program kerja secara nasional kepada masyarakat
  3. Menjadi komunikator dan mediator yang proaktif dalam menjembatani kepentingan pemerintah, menampung aspirasi, dan keinginan-keinginan publiknya
  4. Berperan serta menciptakan iklim yang kondusif dan dinamis demi stabilitas keamanan, politik, dan pembangunan nasional, baik jangka panjang maupun jangka pendek.

Aktivitas Humas Pemerintah

Humas pemerintah menjadi penghubung penting antara rakyat dengan pemerintah. Pada level apa pun dalam suatu pemerintahan, humas bertugas untuk memberi tahu tentang program resmi atau apa-apa yang dilakukan oleh pemerintah.

Humas juga melakukan riset untuk menyusun dasar-dasar untuk memberi nasihat kepada para pejabat tentang kebutuhan rakyat atau masyarakat. Komunikasi menjadi alat penting dalam menjalankan aktivitas humas pemerintah.

Rosady Ruslan (2014: 345) menjelaskan kegiatan rutin yang dilaksanakan humas pemerintah dalam menunjang pelaksanaan tugas dan fungsinya, yaitu:

  1. Membangun dan membina saling pengertian antara pimpinan lembaga dengan khalayak ekternal dan internal
  2. Memberikan pelayanan dan informasi, baik bersumber dari lembaga maupun dari publiknya
  3. Menyelenggarakan dokumentasi untuk setiap peristiwa, kegiatan, atau acara penting yang terjadi di lingkungan lembaga
  4. Mengumpulkan data dan informasi yang berasal dari berbagai sumber, khususnya yang berkaitan dengan kepentingan lembaga
  5. Membuat produk publikasi humas.

Aktivitas komunikasi humas pemerintah tidak bisa dipisahkan dari media yang digunakannya. Pengelolaan media dalam dunia pemerintah terdiri atas informasi politik, dan informasi publik.

Informasi politik dilakukan melalui para pejabat pers (biasanya dari para mantan wartawan) yang membangun dan menempatkan berita baik dan keberhasilan partai politik.

Informasi publik dilakukan melalui departemen para pejabat publisitas, yaitu bagian pelayanan publik yang membantu desiminasi informasi dan operasi pemerintah.

Tugasnya adalah memberikan informasi kepada publik tentang hak daa kewajiban, perundang-undangan, pelayanan pemerintah, dan membantu dalam mengarahkan sesuatu (Johnston, dalam Ardianto, 2013: 248).

Tantangan Humas Pemerintah

Saat ini tantangan utama humas pemerintah adalah adaptasi dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, khususnya internet.

Humas pemerintah harus menguasai teknologi informasi dan komunikasi, termasuk di dalamnya media sosial, sehingga dapat mengetahui kebutuhan publik.

Humas pemerintah harus mampu mengelola website dan media sosial resmi lembaga, dan mengisinya dengan konten kekinian yang menarik perhatian warganet (netizen).

Meski tiap lembaga kini memiliki media sendiri (website dan media sosial), praktisi humas pemerintah tetap harus mampu menjalin sinergi dengan wartawan (media massa) agar dapat mengontrol informasi yang disampaikan kepada publik.

Humas pemerintah dituntut mampu menjadi pembuat konten (content creator) dan mengimbangi konten-konten yang dibuat masyarakat melalui website, blog, dan media sosial.

Selain tantangan terkait teknologi internet, humas pemerintah juga masih menghadapi tantangan keterampilan tradisional (traditional skills) humas secara umum, yaitu keterampilan menulis (writing skills) dan keterampilan berbicara (speaking skills).

Praktisi humas pemerintah, sebagamana praktisi PR pada umumnya, harus menguasai teknik jurnalistik dan public speaking untuk kelancaran tugasnya.

Sumber:

  • Website Kominfo
  • Website Setkab
  • Ardianto, Elvinaro. 2013. Handbook of Public Relations. Bandung: Simbiosa
  • Ruslan, Rosady. 2014. Manajemen Humas dan Media Komunikasi. Jakarta: Rajawali Pers
  • Cutlip, Center, Broom. 2009. Effective Public Relations. Jakarta: Kencana.

 

Pengertian Jargon dan Contohnya

Pengertian Jargon dan Contohnya

Hindari penggunaan jargon dalam penulisan berita. Demikian salah satu kode etik jurnalistik.

Apa itu jargon? Berikut ini pengertian jargon dan contohnya. Catatan Romeltea.

Pengertian Jargon

Jargon memiliki kemiripan dengan bahasa gaul yang sering digunakan pengguna media sosial.

Dalam kamus bahasa Indonesia, jargon diartikan sebagai “kosakata khusus yang digunakan dalam bidang kehidupan (lingkungan) tertentu” (KBBI Daring).

Dalam bahasa Inggris, pengertian jargon juga demikian. Kamus Google Translate menyebutkan, jargon adalah kata atau ungkapan khusus yang digunakan oleh profesi atau kelompok tertentu dan sulit dipahami orang lain.

Dengan demikian, pengertian jargon adalah kata-kata khusus yang bersifat teknis yang digunakan secara terbatas dalam bidang ilmu, profesi, atau kelompok tertentu dan hanya dipahami kalangan terbatas.

Itulah sebabnya, wartawan dilarang menggunakan jargon dalam penulisan berita, karena jargon sulit dipahami orang awam (umum).

Jargon awalnya merupakan kata-kata khusus berupa kata sandi atau kode rahasia yang digunakan di kalangan tertentu, seperti dokter, militer, dan perkumpulan rahasia.

Jargon digunakan dengan tujuan untuk memudahkan komunikasi dalam kelompok atau lingkungan tertentu. Motif lainnya adalah agar komunikasi dalam kelompok tidak diketahui kelompok lain.

Hingga kini, tiap profesi dan bidang keilmuan (kedokteran, ekonomi, geologi, dan sebagainya) memiliki jargon tersendiri yang hanya dipahami pelaku profesi dan pengkaji ilmu bersangkutan.

Contoh Jargon

Tiap lembaga atau kementrian pemerintah juga memiliki jargon. Demikian juga lembaga swasta atau perusahaan.

Sebagai contoh, di dunia pendidikan ada istilah “peserta didik” untuk menyebut “siwa” atau “murid”. Penerimaan siswa baru di sekolah pun kini disebut Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB).

Contoh lain, di kepolisian, khususnya reserse dan kriminal, ada istilah “curas” (pencurian dengan kekerasan), “curat” (pencurian dengan pemberatan), DPO (Daftar Pencarian Orang), dan sebagainya.

Dalam bidang ekonomi, contoh jargon yang hanya dipahami mendalam kalangan ekonom atau ahli ekonomi antara lain inflasi, deflasi, moneter, devaluasi, dan sebagainya.

Itulah contoh-contoh jargon. Jika sering digunakan, khususnya oleh media massa, maka jargon pun lambat-laut akan dipahami umum.

Wartawan senior Farid Gaban pernah menyoal media yang keranjingan memakai jargon. Dalam rubrik bahasa Majalah Tempo (2008) ia menulis:

“Para wartawan sendiri makin sering memproduksi jargon, mengganti kata sederhana dengan istilah rumit. Kata ‘pasca” yang merupakan terjemahan dari post’ dalam jurnal-jurnal ilmiah, misalnya, makin sering dipakai untuk menggantikan kata ‘setelah’ secara tidak tepat.”

“Jika pernah mendengar judul berita ‘beban rakyat bertambah berat pasca-kenaikan harga elpiji’, kita boleh khawatir kelak orang akan mengatakan ‘perutku mulas pasca-makan rujak’.”

Demikian pengertian jargon dan contohnya.

Saat ini, di era media sosial, bermunculan kata-kata atau istilah mirip jargon, yang dikenal dengan sebutan “kata gaul” atau “bahasa gaul”.

Dalam bahasa Inggris, bahasa gaul disebut slang yang secara harfiah artinya “logat” atau “ucapan populer”.*