Pengertian Komunikasi, Level, dan Model

Posted on 11 views
Pengertian Komunikasi

Salah satu persoalan dalam memberi pengertian komunikasi, yakni banyaknya definisi yang telah dibuat oleh para pakar menurut bidang ilmunya.

Hal ini disebabkan karena banyaknya disiplin ilmu yang telah memberi masukan terhadap perkembangan ilmu komunikasi, misalnya, psikologi, sosiologi, antropologi, ilmu politik, matematika, dll.

Komunikasi pada dasarnya dapat terjadi dalam berbagai konteks kehidupan.

Seorang bayi menangis di tengah malam, seorang bapak sedang membaca suratkabar, seorang dosen yang sedang mengajar, dan lain-lain.

Contoh-contoh tersebut merupakan gambaran peristiwa komunikasi dalam berbagai konteks.

Carl I. Hovland dari Universitas Yale misalnya mempelajari komunikasi dalam hubungannya dengan sikap manusia.

Charles E. Osgood di Universitas Illinois mempelajari studi empirik arti pesan.

Paul F. Lazarsfeld di Universitas Columbia mempelajari komunikasi antarpribadi dalam kaitannya dengan komunikasi massa.

Leon Festinger, Elihu Katz, mempelajari teori ketidakcocokan (dissonance theory) dan faktor-faktor lainnya yang erat hubungannya dengan komunikasi, dll.

Begitu banyak sarjana tertarik mempelajari komunikasi telah melahirkan berbagai macam definisi atau pengertian komunikasi yang bisa membingungkan jika tidak memahami hakikat komunikasi antar manusia.

Pengertian Komunikasi

Istilah komunikasi atau communication dalam bahasa Inggris berasal dari kata Latin communis yang berarti sama, communicocommunicatio, atau communicare yang berarti “membuat sama” (to make common).

Istilah communis adalah istilah yang paling sering disebut sebagai asal-usul kata komunikasi. Komunikasi menyarankan bahwa suatu pikiran, suatu makna, atau suatu pesan dianut secara sama.

Sejalan dengan perkembangan ilmu komunikasi sebagai ilmu pengetahuan sosial yang bersifat multidisipliner, definisi-definisi yang diberikan para ahli pun menjadi semakin banyak dan beragam.

Masing-masing punya penekanan arti, cakupan, dan konteksnya yang berbeda satu sama lainnya. Hal ini merupakan hal yang wajar, karena tidak ada definisi yang benar ataupun yang salah.

Tetapi yang harus dilihat adalah kemanfaatannya untuk menjelaskan fenomena yang didefinisikan dan mengevaluasinya.

Tahun 1976, Frank Dance & Carl Larson telah mengumpulkan 126 definisi komunikasi.

Beberapa diantara definisi komunikasi tersebut:

Komunikasi adalah suatu proses melalui mana seseorang (komunikator) menyampaikan stimulus (biasanya dalam bentuk kata-kata) dengan tujuan mengubah atau membentuk perilaku orang-orang lainnya (khalayak). (Hovland, Janis & Kelley; 1953).

Komunikasi pada dasarnya merupakan suatu proses yang menjelaskan “siapa”, “mengatakan apa”, “dengan saluran apa”, “kepada siapa” dan “dengan akibat atau hasil apa” (Who Says What In Which Channel To Whom With What Effect). (Lasswell, 1960)

Komunikasi adalah suatu proses dimana dua orang atau lebih membentuk atau melakukan pertukaran informasi dengan satu sama lainnya, yang pada gilirannya akan tiba pada saling pengertian yang mendalam. (Rogers dan Lawrence Kincaid, [1981])

Definisi-definisi yang dikemukakan tentunya belum mewakili semua definisi komunikasi yang telah dibuat oleh banyak pakar, namun sedikit banyaknya kita telah memperoleh gambaran.

Shannon dan Weaver (1949) mengemukakan, komunikasi adalah bentuk interaksi manusia yang saling pengaruh mempengaruhi satu sama lainnya, sengaja atau tidak disengaja. Tidak terbatas pada bentuk komunikasi menggunakan bahasa verbal, tetapi juga dalam ekspresi muka, lukisan, seni dan teknologi.

Konteks & Level Komunikasi

Banyak pakar komunikasi mengklasifikasikan komunikasi berdasarkan konteksnya. Sebagaimana juga definisi komunikasi konteks komunikasi ini diuraikan secara berlainan.

Istilah-istilah lain juga digunakan untuk merujuk kepada konteks ini. Selain istilah konteks (context) yang lazim, juga digunakan istilah tingkat (level), bentuk (type), situasi (situation), keadaan (setting), jenis (kind), cara (mode) dan pertemuan (encounter) (Deddy Mulyana, 2000:70).

Indikator paling umum untuk mengklasifikasikan komunikasi berdasarkan konteksnya atau tingkatnya adalah jumlah peserta yang terlibat dalam komunikasi. Maka dikenallah komunikasi intrapribadi, komunikasi antarpribadi, komunikasi kelompok, komunikasi massa, komunikasi organisasi, dan lain-lain.

Berikut ini akan dijelaskan secara singkat konteks-konteks komunikasi tersebut:

1. Komunikasi intrapribadi (intrapersonal communication)

Komunikasi intrapribadi adalah komunikasi dengan diri sendiri, baik kita sadari atau tidak. Komunikasi jenis ini terjadi dalam diri individu. Contohnya berpikir. Komunikasi ini merupakan landasan komunikasi antarpribadi dan komunikasi dalam konteks-konteks lainnya, meskipun dalam disiplin komunikasi tidak dibahas secara rinci dan tuntas.

Baca Juga:  Definisi dan Pengertian Komunikasi Lengkap

Komunikasi intrapribadi dimungkinkan terjadi karena manusia dapat menjadi objek bagi dirinya sendiri melalui penggunaan simbol-simbol yang digunakan dalam komunikasinya.

Terjadinya proses komunikasi di sini karena adanya seseorang yang memberi arti terhadap sesuatu objek yang diamatinya atau terbetik dalam pikirannya. Obyek dalam hal ini bisa saja dalam bentuk benda, kejadian alam, peristiwa, pengalaman, fakta yang mengandung arti bagi manusia, baik yang terjadi di luar maupun dalam diri seseorang.

Dalam proses pengambilan keputusan misalnya, seringkali seseorang dihadapkan pada pilihan Ya atau tidak. Keadaan semacam ini membawa seseorang pada situasi berkomunikasi dengan diri sendiri, terutama dalam mempertimbangkan untung ruginya suatu keputusan yang akan diambil. Cara ini hanya bisa dilakukan dengan metode komunikasi intrapersonal atau komunikasi dengan diri sendiri.

2. Komunikasi Antarpribadi (Interpersonal Communication)

Komunikasi antarpribadi adalah komunikasi antara orang-orang secara tatap muka, yang memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaksi orang lain secara langsung, baik secara verbal ataupun non verbal.

Komunikasi antarpribadi bercirikan antara lain: melibatkan sejumlah komunikator yang relatif kecil, berlangsung dengan jarak fisik yang dekat, bertatap muka, memungkinkan jumlah maksimum saluran indrawi, dan umpan balik segera.

Bentuk khusus dari komunikasi antarpribadi ini adalah komunikasi diadik (dyadic communication). Komunikasi diadik ialah proses komunikasi yang berlangsung antara dua orang dalam situasi tatap muka, seperti suami-istri, dua sejawat, guru-murid, dan sebagainya. Ciri komunikasi diadik adalah: pihak-pihak yang berkomunikasi berada dalam jarak yang dekat; pihak-pihak yang berkomunikasi mengirim dan menerima pesan secara simultan dan spontan, baik secara verbal maupun non verbal.

3. Komunikasi Kelompok

Kelompok adalah sekumpulan orang yang mempunyai tujuan bersama, yang berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan bersama, mengenal satu sama lainnya, dan memandang mereka sebagai bagian dari kelompok tersebut. Kelompok ini misalnya adalah keluarga, tetangga, kawan-kawan terdekat, kelompok diskusi, dan lain-lain. Dengan demikian komunikasi kelompok biasanya merujuk pada komunikasi yang dilakukan kelompok kecil tersebut (small-group communication). Komunikasi kelompok dengan sendirinya melibatkan juga komunikasi antarpribadi berlaku juga bagi komunikasi kelompok.

4. Komunikasi Publik (Public Communication)

Komunikasi publik adalah komunikasi antara seorang pembicara dengan sejumlah besar orang (khalayak), yang tidak bisa dikenal satu persatu. Komunikasi demikian sering disebut juga pidato, ceramah atau kuliah umum.

Secara garis besar ada tiga aspek yang harus diperhatikan dalam komunikasi publik, yaitu:

  • Komunikasi publik cenderung terjadi di tempat-tempat yang biasanya dianggap sebagai tempat publik, seperti auditorium, kelas dan sejenisnya daripada di tempat tersendiri, seperti di rumah, di kantor dan di tempat khusus lainnya.
  • Pembicaraan publik lebih merupakan “kesempatan mengemukakan masalah sosial” daripada kesempatan mengemukakan masalah-masalah informal dan tidak terstruktur. Biasanya pembicaraan publik direncanakan lebih dulu; mungkin ada agenda dan acara lainnya dapat mendahului dan mengikuti penampilan pembicara.
  • Komunikasi publik melibatkan norma perilaku yang relatif jelas.

(Stewart L.Tubbs dan Syvia Moss, 1996: 112).

5. Komunikasi Organisasi (organizational communication)

Komunikasi organisasi terjadi dalam suatu organisasi, bersifat formal dan juga informal, dan berlangsung dalam suatu jaringan yang lebih besar daripada komunikasi kelompok. Komunikasi organisasi seringkali melibatkan juga komunikasi diadik, komunikasi antarpribadi, maupun komunikasi publik. Komunikasi formal adalah komunikasi menurut struktur organisasi, yakni komunikasi kebawah, komunikasi keatas, dan komunikasi horisontal Sedangkan komunikasi informal tidak bergantung pada struktur organisasi, seperti komunikasi antarsejawat.

6. Komunikasi Massa (Mass Communication)

Komunikasi massa adalah komunikasi yang menggunakan media massa baik cetak (surat kabar, majalah) atau elektronik (radio, televisi) , yang dikelola oleh suatu lembaga atau orang yang dilembagakan, yang ditujukan kepada sejumlah besar orang yang tersebar di banyak tempat, jarak fisik yang jauh, anonim dan heterogen. Pesan-pesannya bersifat umum, disampaikan secara cepat, serentak dan selintas (khususnya media elektronik). Selain itu tidak memungkinkan umpan balik segera.

Baca Juga:  Humas Online: Strategi Public Relations Efektif Era Digital

Komunikasi antarpribadi, komunikasi kelompok dan komunikasi organisasi berlangsung juga dalam proses untuk mempersiapkan pesan yang disampaikan media massa ini.

7. Komunikasi Medio

Biasanya, proses komunikasi dibagi dalam dua kategori besar: komunikasi antar pribadi dan massa.

Dewasa ini, sejalan dengan meningkatnya riset dan minat pada bidang komunikasi, survei tentang kegiatan komunikasi secara menyeluruh menyatakan bahwa dikotomi tradisional tidak mencakup seluruh jenis komunikasi, dan bahwa banyak kegiatan komunikasi yang sedang berlangsung tidak dapat dikelompokkan dalam salah satu kegiatan standar itu.

Para pakar komunikasi akhirnya memasukkan konteks lain dalam komunikasi yaitu komunikasi medio.

Komunikasi medio adalah bentuk komunikasi yang terletak diantara komunikasi tatap muka dan komunikasi massa, yang ditandai dengan penggunaan teknologi dan berlangsung dalam kondisi khusus dan melibatkan peserta yang dapat diidentifikasi. Jadi penerima pesannya relatif sedikit dan diketahui oleh komunikator.

Selain itu, pesannya tidak bersifat umum. Contohnya, komunikasi lewat telepon, teletype, komunikasi lewat faksimili, radio mobil, radio CB, televisi sirkuit, dan surat elektronik (E-mail).

Willbur Schramm mengibaratkan komunikasi dengan kampung Bab elh-Dhra pada lebih kurang 5000 tahun silam.

Tempat itu dikunjungi oleh setiap musafir karena kandungan air tawar yang dimiliki kampung itu. Demikian pula halnya komunikasi yang telah ditelaah dari berbagai perspektif ilmu (Rakhmat, 1985: 6-7).

Metode-metode dan model yang dikembangkan dalam ilmu komunikasi sebenarnya berasal dari sejumlah perspektif dan teori di luar khazanah disiplin komunikasi.

Ada pendekatan struktural-fungsional yang diilhami ilmu sosiologi, teori sistem dan informasi dari matematika, perspektif mekanistis dari fisika, perspektif psikologis dari psikologi sosial, dan lain-lain. Proses ini merupakan hasil pengembangan ilmu komunikasi dari komponen filsafat epistemologi.

Model biasa dibangun agar membantu proses identifikasi, penggambaran atau kategorisasi komponen-komponen yang relevan dari suatu proses. Sebuah model dapat dikatakan sempurna, jika ia mampu memperlihatkan semua aspek yang mendukung terjadinya suatu proses. Misalnya, dapat menunjukkan keterkaitan antara satu komponen dengan komponen lainnya dalam suatu proses, dan keberadaannya dapat ditunjukkan secara nyata.

Definisi dan Manfaat

Model secara sederhana bisa dipahami sebagai representasi suatu fenomena, baik nyata maupun abstrak dengan menonjolkan unsur-unsur terpenting fenomena tersebut. Sebagai suatu gambaran yang sistematis. sebuah model bisa menunjukkan berbagai aspek dari suatu proses.

Model komunikasi merupakan alat untuk menjelaskan atau untuk mempermudah penjelasan komunikasi.

Dalam pandangan Sereno dan Mortensen (dalam Mulyana. 2001:121), suatu model komunikasi merupakan deskripsi ideal mengenai apa yang dibutuhkan untuk terjadinya komunikasi.

Oleh karena itu model bisa disebut sebagai gambaran informal untuk menjelaskan atau menerapkan teori atau penyederhanaan teori. Fungsi model komunikasi paling tidak bisa melukiskan proses komunikasi,  menunjukkan hubungan visual dan membantu dalam menemukan dan memperbaiki kendala komunikasi dalam perspektif teoritik.

Aubrey Fisher, mengatakan bahwa model adalah analogi yang mengabstraksikan dan memilih bagian dari keseluruhan, unsur, sifat atau komponen yang penting dari fenomena yang dijadikan model. Model dapat dikatakan sebagai gambaran informal untuk menjelaskan atau menerapkan teori. Dengan kata lain, model adalah teori yang lebih disederhanakan.

Gordon Wiseman dan Larry Barker (dalam Mulyana, 2001:123) menjelaskan tiga fungsi model komunikasi yaitu  melukiskan proses komunikasi, menunjukkan hubungan visual, membantu dalam menemukan dan memperbaiki kemacetan komunikasi.

Bagi Werner J.Severin dan James W. Tankard, Jr. model membantu merumuskan suatu teori dan menyarankan hubungan. Oleh karena hubungan antara model dengan teori begitu erat, model sering dicampuradukkan dengan teori. Oleh karena kita memilih unsur-unsur tertentu yang kita masukkan dalam model, suatu model mengimplikasikan penilaian atas relevansi, dan ini pada gilirannya mengimplikasikan suatu teori mengenai fenomena yang diteorikan. Model dapat berfungsi sebagai basis bagi suatu teori yang lebih kompleks, alat untuk menjelaskan teori dan menyarankan cara-cara untuk memperbaiki konsep-konsep.

Ragam Model Komunikasi

John Fiske (1990) menyebut ada dua mazhab utama yang tercermin dalam model komunikasi.

Baca Juga:  Pengertian Humas dan Tupoksinya

Pertama mazhab proses yang melihat komunikasi sebagai transmisi pesan. Dalam mazhab ini mereka tertarik dengan bagaimana pengirim dan penerima mengkonstruksi pesan (encode) dan menerjemahkannya (decode), dan dengan bagaimana transmiter menggunakan saluran dan media komunikasi. Mazhab ini cenderung membahas kegagalan komunikasi dan melihat ke tahap-tahap dalam proses tersebut guna mengetahui di mana kegagalan tersebut terjadi.

Mazhab kedua melihat komunikasi sebagai produksi dan pertukaran makna. Hal ini berkenaan dengan bagaimana pesan berinteraksi dengan orang-orang dalam menghasilkan makna.

Pada dasarnya model komunikasi juga mempunyai sifat dan fungsi untuk menjelaskan suatu fenomena yang diamati. Terkadang ada beberapa model yang tampak bertentangan, misalnya model S-R (stimulus-respons) dan model interaksional.

Kondisi ini disebabkan karena adanya paradigma yang berbeda itu, sehingga ilmuwan sosial yang berpandangan objektif/positivistik menganggap bahwa ada keteraturan dalam perilaku manusia (manusia cenderung dianggap pasif), seperti perilaku alam, tidak jarang menggunakan model matematik, misalnya dalam bentuk hipotesis yang harus diuji melalui perhitungan statistik.

Sedangkan di sisi lain ilmuwan sosial berpandangan subyektif/interpretif/ fenomenologis, yang menganggap bahwa manusia aktif, biasanya lebih banyak menggunakan model verbal. Akan tetapi, untuk menjelaskan fenomena komunikasi secara umum atau mendasar, kedua kubu tersebut sama-sama sering menggunakan model diagramatik, sebagai salah satu versi dari model simbolik.

Hanya saja, penggunaan model diagramatik juga memang lebih lazim di kalangan ilmuwan positivis daripada dikalangan ilmuwan fenomenologis, seperti yang tampak pada model-model komunikasi yang bersifat linear.

Beberapa contoh model komunikasi,

Model Lasswell

 Meski model ini sering digunakan secara spesifik dalam komunikasi massa. Dia menegaskan bahwa untuk memahami proses komunikasi massa kita perlu mempelajari setiap tahapan dalam modelnya.

Who

Says What

In Which Channel

To Whom

With What Effect?

Model S-M-C-R (Model Berlo) 

Model ini memiliki beberapa unsur, yaitu: S = source (sumber atau komunikator); M = message (pesan); C = channel (saluran), sedangkan R = receiver (penerima/komunikan).

Model Shannon dan Weaver (The Mathematical Theory of Communication) 

Model ini sering juga disebut model teori informasi.  Model ini melukiskan suatu sumber yang menyandi atau menciptakan pesan dan menyampaikannya melalui suatu saluran kepada seorang penerima yang menyandi balik atau mencipta ulang pesan tersebut. Dengan kata lain, model Shannon Weaver mengasumsikan bahwa sumber informasi menghasilkan suatu pesan untuk dikomunikasikan dari seperangkat pesan yang dimungkinkan. Pemancar (transmitter) mengubah pesan menjadi suatu sinyal yang sesuai dengan saluran yang digunakan.

Saluran (channel) adalah medium yang mengirimkan sinyal dari transmitter ke penerima (receiver). Dalam percakapan, sumber informasi ini adalah otak, transmitternya adalah mekanisme suara yang menghasilkan sinyal (kata-kata terucapkan), yang ditransmisikan lewat udara (sebagai saluran). Penerima (receiver), yakni mekanisme pendengaran, melakukan operasi yang sebaliknya yang dilakukan transmitter dengan merekonstruksi pesan dari sinyal. Sasaran (destination) adalah otak orang yang menjadi tujuan pesan itu. Suatu konsep penting dalam model ini adalah gangguan (noise), yakni setiap rangsangan tambahan dan tidak dikehendaki yang dapat mengganggu kecermatan pesan yang disampaikan. Noise ini dapat berupa gangguan psikologis dan gangguan fisik.

Ada banyak lagi model yang lain, satu catatan penting bahwa  setiap model memliki kelebihan dan kelemahan.

Namun demikian, setiap model memang hanya bisa menjelaskan fenomena komunikasi dalam persepektif tertentu.

REFERENSI

Cangara, Hafied. 1998. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada

Mulyana, Deddy. 2001. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Effendy, Onong, Uchjana.2000. Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi. Bandung: Citra Aditya Bakti.

Littlejohn, Stephen. 1996. Theories of Human Communication. Wadsworth Publishing Company Inc Belmont.

Mulyana, Deddy. 2001. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung: Rosdakarya

Rakhmat,  Jalaluddin. 1985. Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Rosda Karya.

Sendjaja, Sasa Djuarsa. 1993. Teori Komunikasi. Jakarta: Universitas Terbuka

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *