Home Komunikasi Pengertian Komunikasi Verbal dan Non-Verbal

Pengertian Komunikasi Verbal dan Non-Verbal

60

Dalam jenis-jenis komunikasi disebutkan, secara umum komunikasi dibagi dalam dua jenis, yaitu komunikasi verbal dan komunikasi non-verbal. Berikut ini Pengertian Komunikasi Verbal dan Non-Verbal.

Jenis-Jenis Komunikasi

 

DALAM sebuah komunikasi, kita bisa melakukan komunikasi verbal atau non-verbal.

Namun, komunikasi non-verbal otomatis terjadi mengiringi sebuah komunikasi verbal.

Artinya, komunikasi non-verbal merupakan bagian dari komunikasi verbal.

Komunikasi verbal dan non-verbal pada hakikatnya saling terkait dan saling melengkapi.

Dalam komunikasi langsung, kita terus-menerus mengirimkan pesan pada lawan bicara kita. Komunikasi non-verbal sering terjadi secara otomatis dan tanpa kita kontrol.

Contoh ketika kita marah atau senang, kita cenderung berbicara dengan lebih keras dan cepat.

jenis komunikasi

Pengertian Komunikasi Verbal

Komunikasi verbal adalah komunikasi yang berbentuk lisan ataupun tulisan.

Inti komunikasi verbal adalah “kata-kata”, baik dicupakan maupun dituliskan, bahasa lisan dan tulisan.

Jadi, komunikasi verbal merupakan komunikasi dengan menggunakan simbol-simbol verbal.

Verbal secara bahasa artinya “secara lisan (bukan tertulis)”.

Meski arti harfiyah verbal adalah “secara lisan”, dalam literatur komunikasi, komunikasi verbal (verbal communication) terbagi menjadi dua:

  1. Komunikasi lisan (oral communication) yakni berbicara dan mendengar
  2. Komuikasi tertulis (written communication) yakni menulis dan membaca.

Unsur penting dalam komunikasi verbal yaitu bahasa dan kata:

  1. Bahasa adalah sistem lambang bunyi
  2. Kata adalah lambang terkecil dalam bahasa; unsur bahasa yang diucapkan atau dituliskan.

Menurut Skill You Need, komunikasi verbal atau komunikasi lisan yang efektif tergantung pada sejumlah faktor dan tidak dapat dipisahkan dari keterampilan interpersonal penting lainnya, seperti komunikasi non-verbal , keterampilan mendengarkan (listening skill), dan klarifikasi .

Kejelasan bicara (clarity), tetap tenang dan fokus, bersikap sopan, dan mematuhi etiket sangat membantu proses komunikasi verbal yang efektif.

komunikasi verbal

Pengertian Komunikasi Non-Verbal

Komunikasi non-verbal adalah komunikasi yang tidak menggunakan kata-kata, tapi menggunakan bahasa tubuh, seperti mimik wajah dan gerakan tangan, juga intonasi suara dan kecepatan berbicara.

Penggunaan pakaian, gaya potongan rambut, simbol-simbol, serta cara berbicara (intonasi, penekanan, kualitas suara, gaya emosi, dan gaya berbicara) juga termasuk komunikasi non-verbal (non-verbal communication).

Jadi, dalam komunikasi non-verbal, pesan disampaikan tidak menggunakan kata-kata.

Contoh komunikasi nonverbal ialah menggunakan gerak isyarat, bahasa tubuh, ekspresi wajah dan kontak mata, penggunaan objek seperti pakaian, potongan rambut, dan sebagainya, simbol-simbol, serta cara berbicara seperti intonasi, penekanan, kualitas suara, gaya emosi, dan gaya berbicara.

Para ahli di bidang komunikasi non-verbal biasanya menggunakan definisi “tidak menggunakan kata” dengan ketat, dan tidak menyamakan komunikasi non-verbal dengan komunikasi nonlisan.

Contohnya, bahasa isyarat dan tulisan tidak dianggap sebagai komunikasi nonverbal karena menggunakan kata, sedangkan intonasi dan gaya berbicara tergolong sebagai komunikasi nonverbal.

Komunikasi non-verbal juga berbeda dengan komunikasi bawah sadar (Unconscious communication) yang dapat berupa komunikasi verbal ataupun non-verbal.

Komunikasi Non-Verbal

Dalam sebuah komunikasi personal, komunikasi non-verbal lebih dominan dibandingkan komunikasi verbal.

Hasil studi Albert Mahrabian menyatakan, tingkat kepercayaan dari pembicaraan orang hanya 7% berasal dari bahasa verbal, 38% dari vocal suara dan 55% dari ekspresi muka.

mehrabian-komunikasi verbal non-verbal

Kode Verbal dan Non-Verbal

Dalam sebuah proses komunikasi, komunikator melakukan pengkodean (encoding) terhadap sebuah pesan sebelum menyampaikan kepada komunikan.

Penyusunan atau penentuan kode memerlukan keterampilan dan pertimbangan tersendiri agar komunikasi berlangsung efektif-efisien.

Dalam komunikasi, kode pada dasarnya dapat dibedakan atas dua macam, yakni kode verbal (bahasa) dan kode non-verbal (isyarat).

1. Kode Verbal

Kode verbal dalam pemakaiannya menggunakan bahasa, dapat didifinisikan seperangkat kata yang telah disusun secara berstruktur sehingga menjadi himpunan kalimat yang mengandung arti.

Sekurang-kurangnya ada tiga fungsi yang erat hubungannya dalam menciptakan komunikasi yang efektif:

  1. Untuk mempelajari tentang dunia sekeliling kita.
  2. Untuk membina hubungan baik diantara sesama manusia.
  3. Untuk menciptakan ikatan-ikatan dalam kehidupan manusia.

Melalui bahasa, kita dapat mengatahui sikap, perilaku dan
pandangan suatu bangsa.

Bahasa memegang peranan penting bukan saja hubungan antar manusia, tetapi juga dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan pewarisan nilai-nilai budaya dari generasi pelanjut.

Bahasa mengembangkan pengetahuan kita, agar kita dapat menerima sesuatu dari luar dan juga berusaha untuk mengembangkan ide-ide kita kepada orang lain.

2. Kode Non-Verbal

Kode non-verbal atau bukan kata-kata biasa disebut bahasa isyarat (sign languages) atau bahasa diam (silent language).

Bahasa isyarat adalah bahasa yang mengutamakan komunikasi manual, bahasa tubuh, dan gerak bibir, bukannya suara, untuk berkomunikasi.

Kode non-verbal digunakan dalam berkomunikasi, sudah lama menarik perhatian para ahli terutama kalangan antropologi, bahasa, bahkan dari bidang kedokteran.

Mark knapp (1978) menyebutkan, penggunaan kode non-verbal dalam berkomunikasi memiliki fungsi untuk :

  1. Meyakinkan apa yang diucapkan (repetition).
  2. Menunjukkan perasaan dan emosi yang tidak bisa diutarakan dengan kata-kata (substitution).
  3. Menunjukkan jati diri sehingga orang lain bisa mengenalnya (identity).
  4. Menambah atau melengkapi ucapan-ucapan yang dirasakan belum sempurna.

Penambahan arti terhadap kode non-verbal sangat dipengaruhi oleh sistem sosial budaya masyarakat yang menggunakannya.

Dari berbagai studi yang pernah dilakukan, kode non-verbal dapat dikelompokkan dalam beberapa bentuk, antara lain:

a. Kinesics

Konesik ialah kode non-verbal yang ditunjukkan oleh gerakan badan (gestur).

Gerakan gerakan badan bisa dibedaan atas lima macam:

1. Emblem

Isyarat yang punya arti langsung pada simbol yang dibuat oleh gerakan badan. Misalnya mengangkat jari V yang artinya Victory atau menang, mengangkat jempol berarti yang terbaik untuk orang indonesia, tetapi terjelek bagi orang india.

2. Illustrators

Isyarat yang dibuat oleh gerakan-gerakan badan untuk menjelaskan sesuatu, misalnya besarnya barang atau tinggi rendahnya suatu obyek yang dibicarakan.

3. Affect displays

Isyarat yang terjadi karena adanya dorongan emosional sehingga berpengaruh pada ekspresi muka, misalnya tertawa, menangis, tersenyum, sinis, dan sebagainya.

4. Regulators

Gerakan-gerakan tubuh yang terjadi pada daerah kepala, misalnya mengangguk tanda setuju atau menggeleng tanda menolak.

5. Adaptory

Gerakan badan yang dilakukan sebagai tanda kejengkelan. Misalnya menggerutu, mengepalkan tinju ke atas meja dan sebagainya.

b. Gerakan mata

Mata adalah alat komunikasi yang paling berarti dalam memberi isyarat tanpa kata. Bahkan ada yang menilai bahwa gerakan mata adalah pencerminan isi hati seseorang.

Mark knapp dalam risetnya menemukan empat fungsi utama gerakan mata, yakni:

  1. Untuk memperoleh umpan balik dari seorang lawan bicaranya. Misalnya dengan mengucapkan bagaimana pendapat anda tentang hal itu.
  2. Untuk menyatakan terbukanya saluran komunikasi dengan tibanya waktu untuk bicara.
  3. Sebagai signal untuk menyaluran hubungan, di mana kontak mata akan meningkatkan frekuensi bagi orang yang saling memelukan. Sebaliknya orang yang merasa malu akan akan berusaha untuk menghindari terjadinya kontak mata. Misalnya orang yang merasa bersalah atau berhutang akan menghindari orang yang bisa menagihnya.
  4. Sebagai pengganti jarak fisik. Bagi orang yang berkunjung ke suatu pesta, tetapi tidak sempat berdekatan karena banyaknya penggunjung, maka melalui kontak mata mereka dapat mengatasi jarak pemisah yang ada.

c. Sentuhan (touching)

Isyarat yang dilambangkan dengan sentuhan badan.

Menurut bentukya sentuhan badan dibagi atas tiga macam, yakni:

  1. Kinesthetic: isyarat yang ditunjukkan dengan bergandengan tangan satu sama lain, sebagai simbol keakraban atau kemesraan.
  2. Sociofugal: isyarat yang ditunjukkan dengan jabat tangan atau saling merangkul yang menunjukkan persahabatan.
  3. Thermal: isyarat yang ditunjukkan dengan sentuhan badan yang terlalu emosional sebagai tanda persahabatan yang begitu intim. Misalnya menepuk punggung karena sudah lama tidak bertemu.

d. Paralanguage

Isyarat yang ditimbulkan dari tekanan atau irama suara sehingga penerima dapat memahami sesuatu di balik apa yang diucapkan.

Misalnya “datanglah” bisa diartikan betul-betul mengundang kehadiran kita atau sekedar basa-basi.

Suatu kesalahpahaman seringkali terjadi kalau komunikasi berlangsung dari etnik yang berbeda. Suara yang bertekanan besar bisa disalahartikan oleh etnik tertentu sebagai perlakuan kasar, meski menurut kata hatinya tidak demikian, sebab hal itu sudah menjadi kebiasaan bagi etnik tersebut.

e. Diam

Dalam kehidupan sehari-hari, sikap berdiam diri sangat sulit diterka, apakah orang itu malu, cemas atau marah.

Banyak yang mengambil sikap diam karena tidak mau menyatakan sesuatu yang menyakitkan orang lain, misalnya menyatakan “tidak”.

Tetapi dengan berdian , juga dapat menyebabkan orang bersikap ragu. Karena diam itu tidak selamanya berarti menolak sesuatu, tetapi juga tidak berarti menerima.

Mengambil sikap diam karena ingin menyampaikan kerahasiaan sesuatu. Untuk memahami sikap diam kita perlu belajar terhadap budaya atau kebiasaan-kebiasaan seseorang.

f. Postur tubuh

Dua ahli psikologi Well dan Siegel membagi bentuk tubuh atas
tiga tipe:

  1. Ectomorphy — bentuk tubuh kurus tinggi dilambangkan sebagai orang yang punya sikap ambisi, pintar, kritis dan sedikit cemas.
  2. Mesomorphy –bentuk tubuh tegap, tinggi dan atletis dilambangkan sebagai pribadi yang cerdas, bersahabat, aktif dan kompetitif.
  3. Endomorphy –bentuk tubuh pendek, bulat dan gemuk dilambangkan sebagai pribadi yang humoris, santai dan cerdik.

g. Kedekatan dan ruang (proximity and spatial)

Proximity adalah kode non-verbal yang menunjukkan kedekatan dari dua objek yang mengandung arti.

Hall (1959) membagi kedekatan menurut territory atas empat macam:

  1. Wilayah intim (rahasia), yakni kedekatan yang berjarak
    antara 4-18 inchi.
  2. Wilayah pibadi, ialah kedekatan yang berjarak antara 1 inchi hingga 4 kaki.
  3. Wilayah sosial, ialah kedekatan yang berjarak antara 4 sampai 12 kaki.
  4. Wilayah umum (publik), ialah kedekatan yang berjarak antara 4 sampai 12 kaki atau sampai suara kita terdengar dalam jarak 25 kaki.

h. Artifact dan visualisasi

Artifact adalah hasil kerajinan manusia (seni), baik yang melekat pada diri manusia maupun yang ditujukan untuk kepentingan umum.

Selain dimaksudkan untu kepentingan estetika, juga untuk menunjukkan status atau identitas diri seseorang atau suatu bangsa.

a. Warna

Warna juga memberi arti terhadap suatu subyek. Hampir semua bangsa di dunia memiliki arti sendiri pada warna.

b. Waktu

Waktu memiliki arti tersendiri dalam kehidupan manusia. Meskipun bagi masyarakat awan seringkali waktu dikaitkan dengan kepercayaan mereka, namun bagi orang-orang yang sudah brpendidikan tinggi, waktu dilihat dari perspektif musim.

Misalnya musim kemarau dan musim hujan yang sangat mempengaruhi aktifitas mereka.

c. Bunyi

Bunyi-bunyian yang dilakukan sebagai tanda isyarat yang tidak dapat digolongkan sebagai paralanguage. Misalnya bersiul, bertepuk tangan, bunyi terompet, letusan senjata, beduk, tambur, sirine dan sebagainya.

d. Bau

Bau juga menjadi kode non-verbal. Selain digunakan untuk melambangkan status seperti kosmetik, bau juga dapat dijadikan sebagai petunjuk arah. Misalnya posisi bangkai, bau karet terbakar, dan semacamnya.

Demikian pengertian komunikasi verbal dan non-verbal beserta penjelasan tentang fungsi dan kode-kodenya.

Referensi

  • Dedy Mulyana,(2001) , Ilmu Komunikas Suatu Pengantar, Remaja Rosdakarya, Bandung.
  • Jalaludin Rakhmat, (1996). Psikologi Komunikasi. Remaja Rosdakarya, Bandung.
  • Hafied Cangara. 1998, Pengantar ilmu komunikasi, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here